Register
Home Home Artikel StoS Film Festival Diluncurkan
Add to: JBookmarks Add to: Facebook Add to: Windows Live Add to: Icio Add to: Del.icoi.us Add to: Yahoo Add to: Technorati Information
Follow us on Twitter
       
StoS Film Festival Diluncurkan
Written by Ani Purwati   

Dengan tema We Care, StoS Film Festival 2010 menggalang solidaritas (kepedulian) masyarakat antara negara-negara selatan, hulu dan hilir untuk menyelamatkan lingkungan hidup dan masyarakat korban. Masyarakat dapat menunjukkan kepeduliaan itu secara langsung dengan terlibat sebagai relawan StoS Film Festival. Masyarakat juga dapat peduli dengan menghasilkan karya dan mengikuti kompetisi film, fotonovela dan blog.

***

Beberapa organisasi non pemerintah (ornop) meluncurkan South to South Film Festival (StoS Film Festival) 2010 di GoetheHaus, Jakarta (15/1). StoS Film Festival 2010 merupakan festival film ketiga tentang dunia selatan-selatan dimana negara berkembang yang kaya sumberdaya alam namun dalam kondisi miskin. Festival film 2010 kali ini mengambil tema We Care (Kita Peduli). Sebagai perhelatan dua tahunan, festival film ini telah berlangsung dua kali, pada 2006 dengan tema “Di Balik Kemilau Emas”, dan 2008 bertema” Vote For Life”.

“StoS Film Festival berbeda dari festival film lain karena merupakan gerakan penyadaran public dengan audio visual dan melibatkan berbagai pihak mulai anak hingga dewasa,” kata Ferdinand Rachim sebagai Koordinator Acara StoS Film Festival 2010.

Dengan tema We Care, StoS Film Festival 2010 menggalang solidaritas (kepedulian) masyarakat antara negara-negara selatan, hulu dan hilir untuk menyelamatkan lingkungan hidup dan masyarakat korban. Masyarakat dapat menunjukkan kepeduliaan itu secara langsung dengan terlibat sebagai relawan StoS Film Festival. Masyarakat juga dapat peduli dengan menghasilkan karya dan mengikuti kompetisi film, fotonovela dan blog.

Saat ini telah ada 32 peserta kompetisi blog, 30 peserta fotonovela dan 67 film dokumenter. Tahun ini, pertama kalinya StoS Film Festival menganugerahkan StoS Award untuk film dokumenter terbaik. StoS Film Festival 2010 juga mengalami penambahan organisasi penyelenggara dan media pendukung. Selain itu juga dilengkapi dengan kegiatan ekspreso dimana masyarakat dapat menyampaikan langsung pesan kesannya tentang lingkungan hidup dan diawali dengan beberapa kali kegiatan Goes to School ke 19 sekolah di kawasan Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi (Jabodetabek).

Menurut Dimas Jayasrana, film-film yang diputar di StoS Film Festival terdiri dari fiksi, documenter dan animasi, mampu memberikan komposisi yang menarik. Film festival lingkungan hidup satu-satunya di Indonesia ini penting sebagai ruang festival film. Dimana materi-materinya tidak muncul di media informasi lain seperti televisi ataupun teater twentyone bisa menjadi alternatif bagi masyarakat. Secara keseluruhan, film-film yang terseleksi dan diputar di StoS Film Festival unggul secara substansi dan isu. Yaitu bagaimana persoalan-persoalan terjadi di tingkat lokal namun berdampak luas.

Seperti film Anak-Anak Lumpur yang bercerita bagaimana fakta yang terjadi di seputar lumpur lapindo yang tidak sekedar menjadi penderitaan bagi korban, namun juga menjadi kawasan yang menarik masyarakat lain untuk berkunjung. Lalu film Satu Harapan sebagai salah satu kompetisi film tentang masyarakat Nusa Tenggara yang hidup dari hasil hutan.

Ada juga film-film yang akan menginspirasi lewat sesi khusus film anak-anak. Anak-anak diajak peduli lingkungan ldengan mengikuti cerita seekor kepiting yang hidup dalam laut penuh sampah plastik. Juga mengikuti usaha keras Mbah Munarjo yang menghijaukan 1300 hektar hutan bakau Pesisir Cilacap. Hingga cerita warga Penago, pesisir barat Bengkulu bersatu menyelamatkan kampungnya dari tambang bijih besi.

Siti Maemunah sebagai Direktur Eksekutif Jaringan Advokasi Tambang (Jatam) sebagai salah satu organisasi penyelenggara mengatakan bahwa StoS Film Festival ini unik karena jarang terjadi dan berupaya menggugah kepedulian konsumen melalui pola konsumsinya.

Melalui festival film ini, konsumen jadi mengetahui seberapa banyak produk yang dikonsumsinya dan berapa biayanya sejak eksploitasi bahan dasarnya hingga menjadi produk yang dikonsumsinya serta apa saja yang terjadi pada masyarakat seputar sumberdaya alam itu. Setelah mengetahui, diharapkan konsumen dapat peduli dengan mengubah pola konsumsinya agar lebih ramah lingkungan sehingga mengurangi tekanan pada kerusakan lingkungan dan masyarakat korban.

M. Teguh Surya dari Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) mengatakan bahwa StoS Film Festival merupakan bentuk kritik siaran hiburan selama ini yang hanya menyuguhkan mimpi-mimpi. stoS Film Festival berupaya untuk menghubungkan hiburan dn fakta yang telah terjadi sehingga muncul semangat dari pengunjung untuk lebih peduli pada lingkungan hidup sekitarnya.

“Selama ini telah terjadi jurang pemisah informasi antara komunitas seputar sumberdaya alam dengan konsumen yang besar, sehingga pemakaian produk tanpa disadari telah menegasikan hak-hak masyarakat adat dan seputar sumberdaya alam,” jelasnya.

Menurut Abdul Halim dari Kiara, StoS Film Festival merupakan kreasi anak bangsa yang ingin mempertegas penarikan gerbong kemerdekaan negara selatan-selatan dengan kesadaran baru semua pihak sehingga mampu mendesak pemerintah lebih peduli pada masyarakat korban dan lingkungan hidup bersama kepedulian masyarakat secara luas.

StoS Film Festival, menurut Girgeo Budi Indarto sebagai Koordinato Civil Society Forum (CSF) juga bisa menjadi media alternatif masyarakat kota yang jarang melihat apa dampak satu kegiatan eksploitasi sumberdaya alam untuk memproduksi suatu produk yang digunakannya terhadap lingkungan hidup dan masyarakat di sekitarnya. Sehingga mereka mengetahui, menyadari dan mampu mengubah pola hidupnya. Selama ini telah banyak film yang beredar namun belum menunjukkan fakta tersebut.  


 
Members : 235
Content : 59
Web Links : 5
Content View Hits : 117282
Designed by SAUNG WEB
We have 17 guests online