Register
Home Home Artikel Gejolak, Ekspresi, dan Media yang Menghubungkan Kita
Add to: JBookmarks Add to: Facebook Add to: Windows Live Add to: Icio Add to: Del.icoi.us Add to: Yahoo Add to: Technorati Information
Follow us on Twitter
       
Gejolak, Ekspresi, dan Media yang Menghubungkan Kita
Written by Nurdiyansah   
Media merekam bermacam-macam ekspresi sebagai luapan gejolak dari ragam ekspresi. Melalui film, foto, musik, maupun tulisan, kita terhubung pada banyak hal yang membuat kita peduli. Salah satu yang menghubungkan kita, adalah permasalahan lingkungan hidup yang menjadi keseharian bersama. Melalui tema “We Care” tahun 2010 ini, StoS tidak hanya menyajikan serangkaian film seputar lingkungan, melainkan pula menyelenggarakan berbagai diskusi. Satu dari tiga bincang-bincang dalam StoS, yaitu “Gejolak, Ekspresi, Media: Kita Terhubung, Kita Peduli”. Program diskusi di hari ke-2 (Sabtu, 23/01/’09) yang dimoderatori Malika (Green Radio) ini dihadiri oleh Michelin Hidayat (produser musik), Julian Sihombing (fotografer), Meiske Taurisia (produser film), dan Anwari Natari (blogger, Satu Dunia). Dengan antusias, pengunjung turut bertanya dan berkomentar seputar masalah lingkungan di sekitar kita.

“Penyadaran itu biar kecil, tapi harus ditumbuhkan. Nggak boleh berhenti,” begitu kata Julian mengomentari isu lingkungan yang tak juga mendapat perhatian besar dan serius di tanah air. Sebagai editor foto di Kompas, ia bermimpi untuk membuat kumpulan buku foto berperspektif anak muda, yang menampilkan kondisi lingkungan dari Sabang sampai Merauke. Lain lagi dengan Michelin, menurutnya menggalang solidaritas itu penting agar kita tak merasa sendirian. Meskipun tak begitu banyak pengunjung yang mengikuti bincang-bincang, bukan berarti perbincangan tidak berjalan seru. Permasalahan lingkungan yang kadang dianggap tak menarik oleh media massa dan masyarakat, memang telah membuat gerah pengunjung untuk terus bertanya.

Dari sisi film, Meiske Taurisia dari Babibutafilm, berpendapat kalau sebaiknya isu lingkungan jangan melulu dalam format dokumenter agar lebih menarik. Ada banyak cara bisa dilakukan oleh kita sebagai anak muda dalam mengekspresikan gejolak kita soal kerusakan alam dan bencana. Sebagai seorang penggiat dunia maya alias internet, Anwari Natari dari Satu Dunia pun punya alternatifnya. Ia menawarkan pada kita untuk memanfaatkan jejaring sosial di internet, seperti Facebook, Twitter, Blog, dan lainnya. “Kalau dulu kita cuma bisa jadi penonton, sekarang kita bisa jadi produsen (kreator) dan disebarkan (secara) digital,” lanjutnya.

Tak sekedar ngobrolin bagaimana caranya menyebarluaskan informasi lingkungan hidup, namun bincang-bincang yang berlangsung selama 2 jam ini telah menginspirasi anak muda yang hadir untuk terus optimis. Isu lingkungan perlu dipertahankan karena menjadi persoalan kita bersama sehari-hari. Bayangkan saja, banjir yang menimpa Jakarta dan sekitarnya, tak kunjung teratasi. Ini artinya, kita masih perlu bersuara dan beraksi. Tak perlu khawatir untuk tidak didengar. Kita bisa kreatif dengan berbagai media di sekitar kita, seperti handphone, kamera digital, internet, dan lainnya. “Selain nunggu, juga berbuat. Jadi nggak jadi penonton aja,” kata Anwari. Meiske bahkan pernah membuat film independen dengan dana kolektif sendiri yang digarap secara volunterisme. Ia menyemangati: “Dikit-dikit dan sabar!”[ ]
 
Members : 235
Content : 59
Web Links : 5
Content View Hits : 117278
Designed by SAUNG WEB
We have 18 guests online