| “Lumpur Lapindo” Lumer di Celah Kesadaran |
| Written by Nur Azizah | |||
|
[Jakarta, 23/01/10] Linda sengaja datang untuk menyaksikan pemutaran film-film yang disuguhkan South to South Film Festival 2010, Jumat (22/1) di Goethe Haus Jakarta. Film berjudul “Anak-anak Lumpur” dan “The Age of Stupid” menyentak olah rasa dan olah pikir Linda. Bagi Linda, film yang mengisahkan tentang perjuangan seorang anak korban Lapindo Brantas ibarat tumbuhan yang terus diberi pupuk untuk tumbuh dan berbuah lebih cepat dari waktu sebenar. Seorang bocah bernama Rafi yang dipaksa untuk berfikir dewasa; bertahan dan berjuang di tengah bencana yang tidak pernah ia pelajari sebelumnya. “Film ini menyentak, terutama di angle pengambilan kamera yang menunjukkan tentang kesusahan mereka atas kejadian Lapindo. Dan itu benar-benar menyiksa mereka,” ujar Linda yang sehari-hari aktif di salah satu televisi swasta nasional di Indonesia. “Padahal mereka (Rafi dan 2 temannya) masih kecil, seharusnya mereka tidak menanggung penderitaan seberat itu,” imbuhnya.
Menyeruak diantara kerumunan sosok laki-laki Papua. Ia bernama John Package. Pesan singkat yang ia terima dari seorang teman menuntun kehendaknya untuk lebur dalam film “Anak-anak Lumpur.” “Film yang pertama bisa juga karena dampak dari global warming. Tapi film itu adalah satu kasus yang seharusnya disikapi secara serius oleh pemerintah terutama karena ini satu kasus yang seharusnya mendunia dan kemudian menjadi perhatian bersama,” ujar John yang ditemui usai pemutaran film. Ia menyayangkan perhatian pemerintah yang terus luput dan abai terhadap kompensasi layak kepada korban, utamanya akses pendidikan bagi anak-anak. “Menurut saya itu (akses pendidikan) menjadi satu kejadian yang sungguh menyedihkan dan harus diseriusi,” kata John. Segenap ruangan teater Goethe Haus malam itu senyap. Bukan tanpa pengunjung. Sekali lagi senyap hendak menghambur mencari celah kesadaran mereka yang sengaja menyerahkan rasa dan fikirnya bagi sisi solidaritas bagi ruh kemanusiaannya. Terujikah mereka menempa sisi itu? “Karena saya bukan orang lingkungan (aktivis lingkungan-red) jadi lebih ke arah yang simple saja. Mulai dari ngga pake AC. Kalau sudah selesai charging HP, benar-benar saya cabut, tidak cuma dalam keadaan standby. TV, DVD player juga saya cabut, jadi nda totally standby mode on. Menurut saya dari yang simple dan kecil saja kita bisa nolong,” tukasnya. Simak penuturan Reziana, Direktur di Direktorat Kehutanan dan Konservasi Sumberdaya Air Bappenas. “Saya jadi pengen naik sepeda karena kost-an ngga terlalu jauh ke kantor. Mulai berfikir untuk ngga konsumtif, mengurangi plastik dan bawa tempat air minum ke kantor,” ungkap Reziana.[ ]
|

